Sejarah Islam - Kabar islam muslim | doa doa islami| jilbab | alquran | puasa | islamic center | nikah | tafsir | zakat | haji | fiqih | aqidah | arab | muslimah | hijab | intisari | artikel islam http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/ Sat, 19 Apr 2014 04:59:55 +0000 Joomla! 1.5 - Open Source Content Management en-gb Peristiwa Perjanjian Hilful Fudhul http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/peristiwa-perjanjian-hilful-fudhul http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/peristiwa-perjanjian-hilful-fudhul Peristiwa Perjanjian Hilful Fudhul
Pada jaman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, yang saat itu belum diutus menjadi Nabi dan Rasul namun beliau telah mempunyai reputasi sebagai orang yang digelari Al Amin. Ada seorang pedagang yang berasal dari Yaman dari kabilah Zabid membawa barang dagangan untuk berdagang di kota Mekkah.

perjanjian Hilful Fudhul

Kemudian ada seorang lelaki dari suku Quraisy yang membeli barang darinya. Namun lelaki ini terkenal akan kekejaman, kejahatan dan kezalimannya. Ia adalah Al ‘Ash bin Wa’il As Sahmi, yang merupakan ayah dari sahabat Nabi Amr bin Al ‘Ash dan Hisyam bin Al ‘Ash radhiallahu’anhuma. Saat Al ‘Ash sudah memperoleh barangnya dan sudah diletakkan di tempatnya, Al ‘Ash tidak mau membayar kepada pedagang dari yaman tersebut.
]]> dodysofyan82@gmail.com (Dody Tabrani | Admin) Sejarah Islam Sat, 14 Dec 2013 07:01:10 +0000 Kembalinya Rasulullah SAW ke Mekah http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/kembalinya-rasulullah-saw-ke-mekah http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/kembalinya-rasulullah-saw-ke-mekah Kembalinya Rasulullah SAW ke Mekah

Masjid dil Haram
Pada tanggal 22 Ramadhan 8 H / Januari 630 M, Rasulullah SAW memimpin 10.000 kaum muslimin menaklukkan kota suci Mekah. Kembalinya Rasulullah SAW ke Mekah ini merupakan kemenangan besar yang terjadi di bulan Ramadhan tersebut telah berlalu selama 1424 tahun yang lalu, namun sampai hari ini dan esok, ia senantiasa melimpahkan beribu pelajaran bagi kaum muslimin. Para ulama, cendekiawan, dai, murabbi, serta mujahid selalu mengenangnya dan mengkajinya sepanjang masa. Dari suatu waktu ke waktu lainnya, mereka nantiasa menemukan mutiara pelajaran yang tiada habisnya.

]]>
dodysofyan82@gmail.com (Dody Tabrani | Admin) Sejarah Islam Sat, 20 Oct 2012 06:19:29 +0000
Perbedaan pandangan mengenai Ali bin Abi Thalib http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/perbedaan-pandangan-mengenai-ali-bin-abi-thalib http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/perbedaan-pandangan-mengenai-ali-bin-abi-thalib  

Perbedaan pandangan mengenai  Ali bin Abi Thalib

 

Ali bin Abi Thalib lahir sekitar 13 Rajab 23 Sebelum Hijriah/599M wafat dan pada   21 Ramadhan 40 Hijriah/661M Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad SAW. Ali bin Abi Thalib adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin, yang merupakan penerus Nabi Muhamad SAW, Abu Bakar Sidiq, Umar Bin Khatab dan Utsman Bin Afan. Ali bin Abi Thalib adalah sepupu dari Nabi Muhammad SAW, dan menjadi menantu Nabi Muhammad SAW setelah menikahi putrinya Fatimah az-Zahra.

]]>
dodysofyan82@gmail.com (Dody Tabrani | Admin) Sejarah Islam Fri, 31 Aug 2012 09:02:43 +0000
Daftar Khalifah Islam http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/daftar-khalifah-islam http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/daftar-khalifah-islam Daftar Khalifah Islam

Khulafa'ur Rasyidin di Madinah

  • Abu Bakar (632 - 634)
  • Umar bin Khattab (634 - 644)
  • Utsman bin Affan (644 - 656)
  • Ali bin Abi Talib (656 - 661)

Kekhalifahan Bani Umayyah di Damaskus

  1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 661-680
  2. Yazid I bin Muawiyah, 680-683
  3. Muwaiyah II bin Yazid, 683-684
  4. Marwan I bin al-Hakam, 684-685
  5. Abdul-Maluk bin Marwan, 685-705
  6. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 705-715
  7. Sulaiman bin Abdul-Malik, 715-717
  8. Umar II bin Abdul-Aziz, 717-720
  9. Yazid II bin Abdul-Malik, 720-724
  10. Hisyam bin Abdul-Malik, 724-743
  11. Al-Walid II bin Yazid II, 743-744
  12. Yazid III bin al-Walid, 744
  13. Ibrahim bin al-Walid, 744
  14. Marwan II bin Muhammad (memerintah di Harran, Jazira) 744-750

Kekhalifahan Bani Abbasiyah di Baghdad

  • Abu'l Abbas As-Saffah - 750 - 754
  • Al-Mansur - 754 - 775
  • Al-Mahdi - 775 - 785
  • Al-Hadi- 785 - 786
  • Harun ar-Rasyid - 786 - 809
  • Al-Amin - 809 - 813
  • Al-Ma'mun - 813 - 833
  • Al-Mu'tasim Billah - 833 - 842
  • Al-Watsiq - 842 - 847
  • Al-Mutawakkil - 847 - 861
  • Al-Muntashir - 861 - 862
  • Al-Musta'in - 862 - 866
  • Al-Mu'tazz - 866 - 869
  • Al-Muhtadi - 869 - 870
  • Al-Mu'tamid - 870 - 892
  • Al-Mu'tadhid - 892 - 902
  • Al-Muktafi - 902 - 908
  • Al-Muqtadir - 908 - 932
  • Al-Qahir - 932 - 934
  • Ar-Radhi - 934 - 940
  • Al-Muttaqi - 940 - 944
  • Al-Mustakfi - 944 - 946
  • Al-Muthi' - 946 - 974
  • Ath-Tha'i' - 974 - 991
  • Al-Qadir - 991 - 1031
  • Al-Qa'im - 1031 - 1075
  • Al-Muqtadi - 1075 - 1094
  • Al-Mustazhir - 1094 - 1118
  • Al-Mustarsyid - 1118 - 1135
  • Ar-Rasyid - 1135 - 1136
  • Al-Muqtafi - 1136 - 1160
  • Al-Mustanjid Billah - 1160 - 1170
  • Al-Mustadhi' - 1170 - 1180
  • An-Nashir - 1180 - 1225
  • Azh-Zhahir - 1225 - 1226
  • Al-Mustanshir - 1226 - 1242
  • Al-Musta'shim - 1242 - 1258

Tanpa Khalifah - 1258-1261

Kekhalifahan Bani Abbasiyah di Kairo

  • Al-Mustanshir II - 1261
  • Al-Hakim I - 1262 - 1302
  • Al-Mustakfi I - 1302 - 1340
  • Al-Wathiq I - 1340 - 1341
  • Al-Hakim II - 1341 - 1352
  • Al-Mu'tadid I - 1352 - 1362
  • Al-Mutawakkil I - 1362 - 1383
  • Al-Wathiq II - 1383 - 1386
  • Al-Mu'tashim - 1386 - 1389
  • Al-Mutawakkil I (pengangkatan kedua) - 1389 - 1406
  • Al-Musta'in - 1406 - 1414
  • Al-Mu'tadid II - 1414 - 1441
  • Al-Mustakfi II - 1441 - 1451
  • Al-Qa'im bi Amrillah - 1451 - 1455
  • Al- Mustanjid - 1455 - 1479
  • Al-Mutawakkil II - 1479 - 1497
  • Al-Mustamsik - 1497 - 1508
  • Al-Mutawakkil III - 1508 - 1517

Kekhalifahan Turki Utsmani

  • Selim I - 1512 - 1520 (secara aktif menggunakan gelar khalifah)
  • Suleiman I (Suleiman yang Agung) - 1520 - 1566
  • Selim II - 1566 - 1574
  • Murad III - 1574 - 1595
  • Mehmed (Muhammed) III - 1595 - 1603
  • Ahmed I - 1603 - 1617
  • Mustafa I (Pengangkatan Pertama) - 1617 - 1618
  • Osman II - 1618 - 1622
  • Mustafa I (Pengangkatan Kedua) - 1622 - 1623
  • Murad IV - 1623 - 1640
  • Ibrahim I - 1640 - 1648
  • Mehmed (Muhammed) IV - 1648 - 1687
  • Suleiman II - 1687 - 1691
  • Ahmed II - 1691 - 1695
  • Mustafa II - 1695 - 1703
  • Ahmed III - 1703 - 1730
  • Mahmud I - 1730 - 1754
  • Osman III - 1754 - 1757
  • Mustafa III - 1757 - 1774
  • Abd-ul-Hamid I - 1774 - 1789
  • Selim III - 1789 - 1807
  • Mustafa IV - 1807 - 1808
  • Mahmud II - 1808 - 1839
  • Abd-ul-Mejid I - 1839 - 1861
  • Abd-ul-Aziz - 1861 - 1876
  • Murad V - 1876
  • Abd-ul-Hamid II - 1876 - 1909 (secara aktif menggunakan gelar khalifah)

Catatan: Sejak 1908 sistem pemerintahan Islam berakhir.

  • Mehmed (Muhammed) V - 1909 - 1918
  • Mehmed (Muhammed) VI - 1918 - 1922
  • Abdul Mejid II - 1922 - 1924; hanya sebagai khalifah (Kepala negara: Gazi Mustafa Kemal Pasha Ataturk)
]]>
dodysofyan82@gmail.com (Dody Tabrani | Admin) Sejarah Islam Mon, 03 Oct 2011 16:51:20 +0000
Sejarah Ke Khalifahan Islam http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/sejarah-ke-khalifahan-islam http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/sejarah-ke-khalifahan-islam Sejarah Ke Khalifahan Islam

Abu Bakar menunjuk Umar sebagai penggantinya sebelum kematiannya, dan untungnya, komunitas muslim menerima hal ini. Pengganti Umar, Utsman bin Affan, dipilih oleh dewan perwakilan kaum muslim. tetapi kemudian, Utsman dianggap memimpin seperti seorang "raja" dibandingkan sebagai seorang pemimpin yang dipilih oleh rakyat. Utsman pun akhirnya terbunuh oleh seseorang dari kelompok yang tidak puas. Ali kemudian diangkat oleh sebagian besar muslim waktu itu di Madinah untuk menjadi khalifah, tetapi ia tidak diterima oleh beberapa kelompok muslim. Dia menghadapi beberapa pemberontakan dan akhirnya terbunuh setelah memimpin selama lima tahun. Periode ini disebut sebagai "Fitna", atau perang sipil islam pertama. ]]> dodysofyan82@gmail.com (Dody Tabrani | Admin) Sejarah Islam Mon, 03 Oct 2011 16:44:35 +0000 Kelahiran Kekhalifahan Islam http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/kelahiran-kekhalifahan-islam http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/kelahiran-kekhalifahan-islam Kelahiran Kekhalifahan Islam

Kekhalifahan Islam, 622-750

Kebanyakan akademis menyetujui bahwa Nabi Muhammad tidak secara langsung menyarankan atau memerintahkan pembentukan kekhalifahan Islam setelah kematiannya. Permasalahan yang dihadapi ketika itu adalah: siapa yang akan menggantikan Nabi Muhammad, dan sebesar apa kekuasaan yang akan didapatkannya?

Pengganti Nabi Muhammad ]]> dodysofyan82@gmail.com (Dody Tabrani | Admin) Sejarah Islam Mon, 03 Oct 2011 16:36:37 +0000 Khalifah http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/khalifah http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/khalifah Khalifah

Khalifah adalah gelar yang diberikan untuk pemimpin umat islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (570–632). Kata "Khalifah" (خليفة Khalīfah) sendiri dapat diterjemahkan sebagai "pengganti" atau "perwakilan". Pada awal keberadaannya, para pemimpin islam ini menyebut diri mereka sebagai "Khalifat Allah", yang berarti perwakilan Allah (Tuhan). Akan tetapi pada perkembangannya sebutan ini diganti menjadi "Khalifat rasul Allah" (yang berarti "pengganti Nabi Allah") yang kemudian menjadi sebutan standar untuk menggantikan "Khalifat Allah". Meskipun begitu, beberapa akademis memilih untuk menyebut "Khalīfah" sebagai pemimpin umat islam tersebut. ]]> dodysofyan82@gmail.com (Dody Tabrani | Admin) Sejarah Islam Mon, 03 Oct 2011 16:33:29 +0000 Keruntuhan Kekhalifahan Turki Utsmani http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/keruntuhan-kekhalifahan-turki-utsmani http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/keruntuhan-kekhalifahan-turki-utsmani Keruntuhan Kekhalifahan Turki Utsmani

Khilafah Islamiyah sejak jaman Khulafaur Rosyidin berdiri dengan kokoh sampai pada Khilafah Utsmaniyah. Eksistensi khalifah sendiri adalah sesuatu yang penting di dalam Islam. Hal ini tergambar dalam kesibukan sahabat Muhajirin dan Anshor untuk menentukan khalifah pengganti Rasulullah SAW di perkampungan bani Saqifah, sementara jenazah Rasulullah sendiri belum dikuburkan. Kekhalifahan dalam Islam mengalami pasang surut antara kejayaan, keemasan dan kadang kemunduran. Salah satu kekhalifahan yang mempunyai rentang waktu panjang dan kejayaan yang mengagumkan adalah Kekhalifahan Utsmaniyah di Turki ]]> dodysofyan82@gmail.com (Dody Tabrani | Admin) Sejarah Islam Mon, 03 Oct 2011 16:28:54 +0000 Daulah Abbasiyah: Al-Musta’shim, Korban Pembantaian Tartar http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/daulah-abbasiyah-al-musta-shim-korban-pembantaian-tartar http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/daulah-abbasiyah-al-musta-shim-korban-pembantaian-tartar Daulah Abbasiyah: Al-Musta’shim, Korban Pembantaian Tartar

Al-Musta'shim dilahirkan pada 609 H. Ibunya seorang wanita mantan budak bernama Hajar. Nama lengkapnya adalah Al-Musta'shim billah, Abu Ahmad, Abdullah bin Al-Musta'shim bin Al-Mustanshir Billah. Ia adalah khalifah ke-37 (1242-1258 M) atau khalifah Bani Abbasiyah terakhir di Irak.

 



Khalifah Al-Musta'shim adalah seorang khalifah yang pemurah, penyabar, dan baik agamanya. Perbedaannya dengan sang ayah adalah dari kejelian dan kewaspadaan. Al-Musta'shim memiliki banyak kelemahan dan terlalu menggantungkan pemerintahannya pada menterinya yang bernama Muayiddin Al-Alqami Ar-Rafidhi, yang berasal dari kalangan Syiah Rafhidah.

Padahal menteri inilah yang banyak melakukan pengkhianatan terhadap negara dengan cara membocorkan rahasia kekuatan negara pada orang-orang Tartar, dengan tujuan agar mereka menyerang dan menghancurkan Dinasti Abbasiyah serta mendirikan kerajaan bagi keturunan Ali.

Penguasaan orang-orang Tartar terhadap Asia tengah dimulai pada 615 H, dengan menguasai Bukhara dan Samarkand. Dalam penaklukan itu mereka membunuh banyak orang dan menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Setelah itu, mereka menguasai Bukhara, Samarkand, Khurasan, Ray, Hamadzan, Irak, Azerbaijan, Darband Syarwan, Lan, Lakz, Qafjaq, dan wilayah-wilayah di sekitarnya yang merupakan wilayah Bani Abbasiyah.

Puncaknya pada 656 H, orang-orang Tartar di bawah pimpinan Hulagu Khan sampai ke Baghdad, pusat pemerintahan Bani Abbasiyah. Kedatangan mereka disambut tentara Khalifah Al-Musta'shim. Namun karena semangat dan jumlah tentara yang tidak seimbang, dalam waktu singkat tentara khalifah disapu bersih oleh pasukan Tartar.

Tentara khalifah saat itu bukan tentara Islam yang sebenarnya. Iman yang mulai rapuh, pemerintahan yang korup, semangat tempur yang rendah, perpecahan karena perbedaan kelompok dan kepentingan di antara pimpinan pasukan menjadi penyebab kekalahan tentara Bani Abbasiyah.

Pada 10 Muharram 656 H, pasukan Tartar memasuki Baghdad tanpa mendapatkan perlawanan sedikit pun. Sebagian besar tentara khalifah terbunuh, begitu juga dengan keluarganya. Sang menteri pengkhianat menasihati Khalifah Al-Musta'shim agar datang menemui orang-orang Tartar untuk mengadakan kesepakatan damai.

Ternyata ini hanya siasat sang menteri. Sebab setiap rombongan yang diutus khalifah keluar, langsung dibunuh, dan begitu seterusnya. Peristiwa ini telah banyak menelan korban dari kalangan ulama, fuqaha dan orang-orang penting di sekitar khalifah.

Adapun tentara Tartar yang berhasil memasuki Baghdad mengadakan pesta pembantaian terhadap siapa saja yang melawan atau tidak melawan. Kekejaman pembantaian ini melebihi apa yang dilakukan oleh Nebukadnezar ketika menaklukkan Baitul Maqdis. Selama empat puluh hari, korban yang jatuh dalam peperangan lebih dari satu juta penduduk. Konon selama empat puluh hari itu juga api tak pernah padam di Baghdad.

Setelah selesai dengan pembantaian terhadap khalifah dan penduduk Baghad, Menteri Muayiddin Al-Alqami meminta Hulagu Khan agar mengangkat orang-orang Alawiyin sebagai khalifah. Namun permintaan ini ditolak oleh Hulagu Khan. Bahkan Ibnu Al-Qami dijadikan pelayan mereka dan akhirnya mati dalam keadaan yang mengenaskan.

Belum puas dengan penaklukan Baghdad, Hulagu Khan mengirim surat kepada An-Nashir, penguasa Damaskus, agar menyerah kepada pasukan Tartar. Permintaan ini ditolak. Pada 658 H, pasukan Tartar menyeberangi sungai Furat dan bergerak menujuk Halb. Mereka pun bersiap-siap menyerang Damaskus. Tentara Mesir yang dipimpin oleh Al-Muzhaffar dan panglima perangnya Ruknuddin Baybars Al-Bandaqari, menyambut kedatangan pasukan Tartar dengan semangat jihad tinggi.

Kedua pasukan bertemu di Ayn Jalut dan pertempuran sengit pun pecah pada 15 Ramadhan. Pasukan Tartar mengalami kekalahan telak dalam pertempuran ini. Sebagian kecil tentara Tartar yang mencoba melarikan diri terus dikejar oleh Baybars hingga ke Halb dan berhasil mengusir mereka dari tanah Arab.

Hingga 659 H, belum juga ada khalifah di dunia Islam. Akhirnya, didirikanlah Khalifah di Mesir dan Al-Mustanshir diangkat sebagai khalifah pertama. Dunia Islam kehilangan kekhalifahan selama 3,5 tahun.

Sebagian besar buku sejarah, ketika memaparkan sejarah para khalifah, berhenti pada Khalifah Al-Musta'shim ini. Padahal ada beberapa Khalifah Abbasiyah berikutnya yang sempat bertahan di Mesir. Mereka masih tergolong Khalifah Abbasiyah yang diakui sejarah. Meskipun wewenang mereka tidak besar, tetapi para penguasa setempat merasa mendapatkan kehormatan jika direstui oleh khalifah yang berada di Mesir.

Bahkan Sultan Bayazid I dari Daulah Ustmaniyah, merasa perlu meminta restu dari khalifah di Mesir, sebelum akhirnya Sultan Salim I mengambil alih khilafah dari tangan Khalifah Al-Mutawakkil III dan mendirikan Khilafah Utsmaniyah di Istanbul, Turki.

 

]]>
dodysofyan82@gmail.com (Dody Tabrani | Admin) Sejarah Islam Mon, 03 Oct 2011 16:26:12 +0000
Perang Uhud http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/perang-uhud http://www.kabarislam.com/sejarah-islam/perang-uhud Perang Uhud


Pengalaman pahit yang dirasakan oleh kaum Quraisy dalam perang Badar telah menyisakan luka mendalam nan menyakitkan. Betapa tidak, walaupun jumlah mereka jauh lebih besar dan perlengkapan perang mereka lebih memadai, namun ternyata mereka harus menanggung kerugian materi yang tidak sedikit.

Dan yang lebih menyakitkan mereka adalah hilangnya para tokoh mereka. Rasa sakit ini, ditambah lagi dengan tekad untuk mengembalikan pamor Suku Quraisy yang telah terkoyak dalam Perang Badar, mendorong mereka melakukan aksi balas dendam terhadap kaum Muslimin. Sehingga terjadilah beberapa peperangan setelah Perang Badar. Perang Uhud termasuk di antara peperangan dahsyat yang terjadi akibat api dendam ini. Disebut perang Uhud karena perang ini berkecamuk di dekat gunung Uhud. Sebuah gunung dengan ketinggian 128 meter kala itu, sedangkan sekarang ketinggiannya hanya 121 meter. Bukit ini berada di sebelah utara Madinah dengan jarak 5,5 km dari Masjid Nabawi.


WAKTU KEJADIAN

Para Ahli Sirah sepakat bahwa perang ini terjadi pada bulan Syawwâl tahun ketiga hijrah Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam ke Madinah. Namun mereka berselisih tentang harinya. Pendapat yang yang paling masyhûr menyebutkan bahwa perang ini terjadi pada hari Sabtu, pertengahan bulan Syawwal.


PENYEBAB PERANG


Di samping perang ini dipicu oleh api dendam sebagaimana disebutkan diawal, ada juga penyebab lain yang tidak kalah pentingnya yaitu misi menyelamatkan jalur bisnis mereka ke Syam dari kaum Muslimin yang dianggap sering mengganggu. Mereka juga berharap bisa memusnahkan kekuatan kaum Muslimin sebelum menjadi sebuah kekuatan yang dikhawatirkan akan mengancam keberadaan Quraisy.

Inilah beberapa motivasi yang melatarbelakangi penyerangan yang dilakukan oleh kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin di Madinah.


JUMLAH PASUKAN


Kaum Quraisy sejak dini telah mempersiapkan pasukan mereka. Barang dagangan dan keuntungan yang dihasilkan oleh Abu Sufyân beserta rombongan yang selamat dari sergapan kaum Muslimin dikhususkan untuk bekal pasukan mereka dalam perang Uhud. Untuk menyukseskan misi mereka dalam perang Uhud ini, kaum Quraisy berhasil mengumpulkan 3 ribu pasukan yang terdiri dari kaum Quraisy dan suku-suku yang loyal kepada Quraisy seperti Bani Kinânah dan penduduk Tihâmah. Mereka memiliki 200 pasukan berkuda dan 700 pasukan yang memakai baju besi. Mereka mengangkat Khâlid bin al-Walîd sebagai komandan sayap kanan, sementara sayap kiri di bawah komando Ikrimah bin Abu Jahl.

Mereka juga mengajak beberapa orang wanita untuk membangkitkan semangat pasukan Quraisy dan menjaga mereka supaya tidak melarikan diri. Sebab jika ada yang melarikan diri, dia akan dicela oleh para wanita ini. Tentang jumlah wanita ini, para Ahli Sirah berbeda pendapat. Ibnu Ishâq rahimahullah menyebutkan bahwa jumlah mereka 8 orang, al-Wâqidi rahimahullah menyebutkan 14 orang, sedangkan Ibnu Sa’d rahimahullah menyebutkan 15 wanita.


MIMPI RASÛLULLÂH SHALLALLÂHU 'ALAIHI WASALLAM


Sebelum peperangan ini berkecamuk, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam diperlihatkan peristiwa yang akan terjadi dalam perang ini melalui mimpi. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menceritakan mimpi ini kepada para Sahabat. Beliau Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

“Saya bermimpi mengayunkan pedang lalu pedang itu patah ujungnya. Itu (isyarat-pent) musibah yang menimpa kaum Muslimin dalam Perang Uhud. Kemudian saya ayunkan lagi pedang itu lalu pedang itu baik lagi, lebih baik dari sebelumnya. Itu (isyarat –pent-) kemenangan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan persatuan kaum Muslimin. Dalam mimpi itu saya juga melihat sapi –Dan apa yang Allah lakukan itu adalah yang terbaik- Itu (isyarat) terhadap kaum Muslimin (yang menjadi korban) dalam perang Uhud. Kebaikan adalah kebaikan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan balasan kejujuran yang Allah Ta’ala karuniakan setelah perang Badar”.


Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menakwilkan mimpi Beliau ini dengan kekalahan dan kematian yang akan terjadi dalam Perang Uhud.

Saat mengetahui kedatangan Quraisy untuk menyerbu kaum Muslimin di Madinah, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam mengajak para Sahabat bermusyawarah untuk mengambil tindakan terbaik. Apakah mereka tetap tinggal di Madinah menunggu dan menyambut musuh di kota Madinah ataukah mereka akan menyongsong musuh di luar Madinah?

Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam cenderung mengajak para Sahabat bertahan di Madinah dan melakukan perang kota, namun sekelompok kaum Anshâr radhiallahu'anhum mengatakan,

“Wahai Nabiyullâh! Sesungguhnya kami benci berperang di jalan kota Madinah. Pada jaman jahiliyah kami telah berusaha menghindari peperangan (dalam kota), maka setelah Islam kita lebih berhak untuk menghindarinya. Cegatlah mereka (di luar Madinah) !"

Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersiap untuk berangkat. Beliau mengenakan baju besi dan segala peralatan perang. Setelah menyadari keadaan, para Sahabat saling menyalahkan. Akhirnya, mereka mengatakan:

“Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menawarkan sesuatu, namun kalian mengajukan yang lain. Wahai Hamzah, temuilah Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan katakanlah, “Kami mengikuti pendapatmu”".

Hamzah radhiallahu’anhu pun datang menemui Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dan mengatakan, ‘Wahai Rasulullâh, sesungguhnya para pengikutmu saling menyalahkan dan akhirnya mengatakan, ‘Kami mengikuti pendapatmu.’ Mendengar ucapan paman beliau ini, Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

‘Sesungguhnya jika seorang Nabi sudah mengenakan peralatan perangnya, maka dia tidak akan menanggalkannya hingga terjadi peperangan’.


Keputusan musyawarah tersebut adalah menghadang musuh di luar kota Madinah. Ibnu Ishâq rahimahullah dan yang lainnya menyebutkan bahwa ‘Abdullâh ibnu Salûl setuju dengan pendapat Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam untuk tetap bertahan di Madinah. Sementara at-Thabari membawakan riwayat yang berlawanan dengan riwayat Ibnu Ishâq rahimahullah, namun dalam sanad yang kedua ini ada orang yang tertuduh dan sering melakukan kesalahan. Oleh karena itu, al-Bâkiri dalam tesisnya lebih menguatkan riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Ishâq rahimahullah.

Para Ulama Ahli Sirah menyebutkan bahwa yang memotivasi para Sahabat untuk menyongsong musuh di luar Madinah yaitu keinginan untuk menunjukkan keberanian mereka di hadapan musuh, juga keinginan untuk turut andil dalam jihad, karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk ikut dalam Perang Badar.

Sementara, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam lebih memilih untuk tetap tinggal dan bertahan di Madinah, karena Beliau ingin memanfaatkan bangunan-bangunan Madinah serta memanfaatkan orang-orang yang tinggal di Madinah.


PELAJARAN DARI KISAH


Kaum Muslimin yang sedang berada di daerah, jika diserbu oleh musuh, maka mereka tidak wajib menyongsong kedatangan musuh. Mereka boleh tetap memilih bertahan di rumah-rumah mereka dan memerangi musuh di sana. Ini jika strategi ini diharapkan lebih mudah untuk mengalahkan musuh. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam dalam Perang Uhud.
(Sirah Nabi: Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII)

]]>
dodysofyan82@gmail.com (Dody Tabrani | Admin) Sejarah Islam Fri, 30 Sep 2011 17:28:40 +0000