Peta Situs

Silahkan bergabung



Pengawal Wanita Kadafi - Korban perang sesungguhnya PDF  | Print |  E-mail
Pengawal Wanita Kadafi - Korban perang sesungguhnya - 1.0 out of 5 based on 1 vote
User Rating: / 1
PoorBest 
Jihad - Jihad
Thursday, 27 October 2011 09:40

Pengawal Wanita Kadafi - Korban perang sesungguhnya

Perempuan yang  memiliki mata coklat yang besar. Dengan bibir merekah dan lilitan syal warna merah muda di kepalanya, Nisreen memang terlihat cantik. Namun, dibalik kemolekannya. Gadis yang kaki lebamnya terikat di tempat tidur ini, sekarang jadi "''hadiah"" bagi para anggotá NTC, pemasok senjata maupun intelegent asing yang berkeliaran dan membantu NTC/pemberontak.


NISREEN Mansour, salah satu wanita yang menjadi pengawal Khadafi menuturkan dalam pelariannya bersama Khadafi, perempuan berusia 19 tahun ini telah menembak sebanyak 11 orang pemberontak hingga tewas. Akhirnya dia tertangkap pasukan NTC/pemberontak saat NTC memasuki tripoli



Belasan orang itu ditembak dalam jarak dekat dengan tangan dingin. Setelah membunuh orang pertama, orang berikutnya dibawa masuk ke dalam ruangan. Orang kedua yang melihat jasad orang pertama, syok. “Saat itulah saya menembaknya juga, dari jarak semeter,” ujarnya tanpa berkedip.

Nisreen adalah salah satu dari ribuan gadis dan perempuan muda yang direkrut oleh brigade militan perempuan Khadafi. Ia kini menjadi tawanan pemberontak dan mengkhawatirkan nyawanya. Banyak orang prihatin, meski ia membunuh belasan pemberontak.

Nisreen mengklaim, dokter dan sejumlah pemberontak percaya kisahnya. Bahwa ia mengeksekusi pemberontak juga dalam tekanan. Ia juga menyatakan dilecehkan secara seksual oleh tokoh militer senior, salah satunya adalah pemimpin brigade militan perempuan.

“Saya sudah mengungkapkan (kepada para pemberontak) apa yang saya lakukan. Mereka marah. Saya tak tahu apa yang akan terjadi,” lanjutnya, dengan tatapan tanpa ekspresi. Anda mungkin heran, bagaimana bisa remaja sepertinya sudah bermain-main dengan darah. Nisreen tadinya hidup bahagia dengan sang ibu di Tripoli. Ia suka musik dan menikmati berdansa. Keluarganya bukan pendukung rezim Khadafi, meski mereka tetap hidup dengan tenang.

Saat kecil, orangtuanya berpisah dan Nisreen memutuskan tinggal dengan sang ibu karena ia tak menyukai ibu tirinya. Salah seorang kawan ibunya, perempuan bernama Fatma Al Dreby, adalah pemimpin brigade militan perempuan di salah satu cabang.

Di sinilah nasib Nisreen berubah. Tahun lalu, gadis ini berhenti kuliah untuk merawat ibunya yang sakit karena mengidap kanker. Fatma melihatnya sebagai kesempatan dan merekrut Nisreen untuk bergabung dengan brigadenya.

Keluarga Nisreen protes, tapi Fatma tak bergeming. Nisreen yang muda dan cantik memenuhi kriteria brigade tersebut. Terdapat seribu gadis dari seluruh Libya dan ia kebagian latihan di kamp Tripoli. “Saya bersama kawan kuliah saya dulu, seorang gadis bernama Faten.” Faten telah terbunuh dalam pertempuran mempertahankan Tripoli

Ketika pemberontakan Libya dimulai, mereka ditugaskan menjaga titik-titik penjagaan di berbagai penjuru ibukota. Nisreen hanya sekali melihat Gaddafi, saat konvoinya melintasi titik yang ia jaga. Nisreen amat takut pada Fatma, yang mengancam akan membunuh jika keluarganya menentang Khadafi. Ada ribuan Nisreen yang lain yang menanti hidup yang tidak pasti dan jadi korban sebenarnya baik saat rezim khadafi maupun saat ini setelah khadafi tumbang dan berada di rezim NTC

 


AFITOUR - Travel Umroh Haji Plus Sahrul Gunawan


Last Updated on Thursday, 01 December 2011 11:30
 

Add comment


Security code
Refresh

Donasi For Rohingya

Follow Kabarislam di Twitter

Kabar Relevan

Share di Facebook

Tambahkan