Masa Idah PDF Print E-mail
Masa Idah - 5.0 out of 5 based on 9 votes
User Rating: / 9
PoorBest 
Artikel - Artikel Motivasi

Masa Idah

masa idah,idah,iddah,waktu idah
Yang dimaksud masa idah merupakan masa menunggu bagi wanita dengan tujuan untuk mengetahui kosongnya rahim, atau dilakukan dalam rangka ibadah, atau dalam rangka berkabung atas meninggalnya suami. Seorang wanita tidak boleh dinikahi pada masa idahnya. Allah Ta’ala berfirman:

 


“Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis idahnya.” (QS. Al Baqarah: 235). Imam Nawawi menyebutkan, “Tidak boleh menikahi wanita yang berada pada masa idah karena suatu sebab. … Salah satu tujuan masa idah adalah untuk menjaga nasab. Jika kita membolehkan nikah pada masa tersebut, tentu akan bercampurlah nasab dan tujuan nikah pun jadi sia-sia (karena kacaunya nasab).” (Al Majmu’, 16: 240)

 

Apa saja masa idah bagi wanita?

idah itu ada tiga macam:

 

  1. idah hitungan quru’
  2. idah hitungan bulan
  3. idah wanita hamil


1. idah hitungan quru’

idah bagi wanita yang masih mengalami haidh (bukan monopause) dan diceraikan suaminya adalah dengan hitungan quru’.

Allah Ta’ala berfirman:
“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.” (QS. Al Baqarah: 228).

Apa yang dimaksud tiga quru’?
Mengenai makna quru’, di sini ada khilaf di antara para ulama. Ada yang menganggap quru’ adalah suci, berarti setelah tiga kali suci, barulah si wanita yang diceraikan boleh menikah lagi. Ada pula ulama yang menganggap quru’ adalah haid.

Contoh: Wanita ditalak tanggal 1 Ramadhan (01/09). Kapan masa idahnya jika memakai tiga kali haidh atau tiga kali suci? Coba perhatikan tabel berikut ini.


01/09                Talak ketika Suci
05/09 – 11/09     Haidh
11/09 – 05/10     Suci
05/10 – 11/10     Haidh
11/10 – 05/11     Suci
05/11 – 11/11     Haidh
11/11                 Suci


Jika yang menjadi patokan adalah tiga kali suci: masa idah dimulai dihitung ketika masa suci saat dijatuhkan talak dan berakhir pada tanggal 5/11 (5 Dzulqo’dah) saat muncul darah haidh ketiga. Di sini masa idah akan melewati dua kali haidh.
Jika yang menjadi patokan adalah tiga kali haidh: masa idah dimulai dihitung dari haidh tanggal 5/9 (5 Ramadhan) dan berakhir pada tanggal 11/11 (11 Dzulqo’dah) setelah haidh ketiga selesai secara sempurna. Di sini masa idah akan melewati tiga kali haidh secara sempurna.

Jika kita perhatikan, hitungan dengan tiga kali haidh ternyata lebih lama dari tiga kali suci.

Manakah di antara dua pendapat di atas yang lebih kuat? Tiga kali suci ataukah tiga kali haidh?

Pendapat yang lebih kuat setelah penelusuran dari dalil-dalil yang ada, yaitu makna tiga quru’ adalah tiga kali haidh. Pengertian quru’ dengan haidh telah disebutkan oleh lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Beliau berkata kepada muslimah yang mengalami istihadhoh,

“Sesungguhnya darah (istihadhoh) adalah urat (yang luka). Lihatlah, jika datang quru’, janganlah shalat. Jika telah berlalu quru’, bersucilah kemudian shalatlah di antara masa quru’ dan quru’.” (HR. Abu Daud no. 280, An Nasai no. 211, Ibnu Majah no. 620, dan Ahmad 6: 420. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Yang dimaksud dalam hadits ini, makna quru’ adalah haidh. Pendapat ini dianut oleh kebanyakan ulama salaf seperti empat khulafaur rosyidin, Ibnu Mas’ud, sekelompok sahabat dan tabi’in, para ulama hadits, ulama Hanafiyah dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya. Imam Ahmad berkata, “Dahulu aku berpendapat bahwa quru’ bermakna suci. Saat ini aku berpendapat bahwa quru’ adalah haidh.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 29: 308)

Kami tidak membawakan perselisihan ini lebih panjang. Itulah kesimpulan kami dari dalil-dalil yang kami pahami. Yang berpendapat seperti ini pula adalah guru kami –Syaikh Sholeh Al Fauzan- (Al Mulakhos Al Fiqhiyyah, 2: 426) dan penulis kitab Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim (Shahih Fiqh Sunnah, 2: 319-322).

Catatan:
Hitungan idah menggunakan kalender Hijriyah, bukan kalender Masehi.
Talak yang syar’i jika dilakukan ketika: (1) suci dan (2) belum disetubuhi.

2. idah hitungan bulan

idah dengan hitungan bulan ada pada dua keadaan:

(1) masa idah dengan hitungan 3 bulan (hijriyah) yaitu bagi wanita yang ditalak sebagai ganti hitungan haid, boleh jadi pada wanita monopause (yang sudah tidak mendapati haid lagi) karena sudah beruzur, atau tidak mendapati haid karena masih kecil, atau sudah mencapai usia haid, namun belum juga mendapati haidh. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.” (QS. Ath Tholaq: 4).

(2) masa idah selama 4 bulan 10 hari (kalender hijriyah), yaitu bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, baik sebelum disetubuhi ataukah sesudahnya, baik wanita yang dinikahi sudah haid ataukah belum pernah haidh, namun dengan syarat wanita yang ditinggal mati bukanlah wanita hamil. Allah Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis idahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”
(QS. Al Baqarah: 234)

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, yaitu (selama) empat bulan sepuluh hari.” (HR. Bukhari no. 5334 dan Muslim no. 1491)

3. idah wanita hamil

Masa idah wanita hamil adalah sampai melahirkan baik idahnya karena talak atau karena persetubuhan syubhat (seperti karena dihamili karena zina). Karena tujuan dari masa idah adalah untuk membuktikan kosongnya rahim, yaitu ditunggu sampai waktu lahir. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath Tholaq: 4).

Para ulama berselisih pendapat, bagaimana jika wanita yang ditinggal mati suami dalam keadaan hamil?

Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa masa idahnya berakhir ketika ia melahirkan, baik masa tersebut lama atau hanya sebentar. Seandainya ia melahirkan 1 jam setelah meninggalnya suaminya, masa idahnya berakhir dan ia halal untuk menikah.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.



@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 4 Muharram 1433 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Di Sadur dari Artikel Muslim.Or.Id


AFITOUR - Travel Umroh Haji Plus Sahrul Gunawan


 

Add comment


Security code
Refresh

Donasi For Rohingya

Follow Kabarislam di Twitter

Kabar Relevan

Share di Facebook

Tambahkan